Sunday, October 2, 2016

Motivasi Lapar Lebih Kuat daripada Huas, Takut, dan Kebutuhan Sosial

Motivasi manusia telah ditelti beberapa tahun belakangan ini, beberapa diantaranya berusaha untuk menjawab sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan seperti; apa yang memotivasi kita untuk melakukan suatu hal? Studi terbaru mengatakan bahwa rasa lapar adalah motivasi yang paling kuat daripada rasa haus, takut, cemas, dan kebutuhan sosial.



Penelitian Motivasi Lapar Lebih Kuat daripada Huas, Takut, dan Kebutuhan Sosial


[caption id="attachment_637" align="aligncenter" width="1920"]Tikus Penelitian terhadap tikus
Sumber Gambar : Pexels.com[/caption]

Penemuan ini telah dipublikasikan oleh Michael J. Krashes di jurnal Neuron. Secara sederhana, motivasi adalah alasan seseorang untuk bertindak suatu hal. Pada tahun 1940an, Abraham Maslow telah merumuskan teori herarki kebutuhan yang menjelaskan tentang 5 dasar kebutuhan manusia. Lima kebutuhan dasar manusia inilah yang memepengaruhi seseorang menjadi sukses dalam hidupnya.


Selama beberapa tahun ini, para peneliti telah menyanggah teori Maslow ini. Para ahli saraf telah meneliti lebih jauh bagaimana peran otak manusia dalam motivasi.


Menurut Krashes, studi neurologi motivasi tergolong sulit dan ia dilakukan dengan kondisi terkontrol dan memfokuskan kepada motivasi yang telah dibuat dengan sulit untuk menentukan apakah beberapa motivasi lebih kuat daripada yang lainnya, dan sirkuit otak apa yang terlibat dalam hal ini.


Para peneliti melakukan percobaan kepada tikus yang telah diperiksa akan motivasinya seperti kelaparan, takut, cemas, dan kebutuhan sosial.


Percobaan ini menggunakan optogenetik (tehnik yang menggunakan cahaya untuk mengontrol sel) untuk mengatur sel saraf otak yang dikenal sebagai neuron agouti-related peptide (AgRP).


AgRP diatur di dalam hipothalamus otak, mereka bertanggungjawab dalam mengatur nafsu makan sebagai langkah bertahan hidup.


Selama percobaan ini para peneliti tidak memberikan makanan kepada tikus selama 24 jam dan mengaktifkan neuron AgPR tikus agar mereka sangat kelaparan. Tikus-tikus ini juga tidak diberikan air untuk membuat mereka kehausan. Tikus yang lainnya tidak diberikan air dan hanya diberikan makanan.


Ketika makanan dan air disediakan, para tikus yang tidak diberikan makanan dan air cenderung untuk memilih makanan dibandingkan meminum air. Ini membuktikan bahwa kelaparan adalah motivasi yang paling kuat dibandingkan rasa haus.


Pada penelitian yang lainnya, para peneliti menginduksikan rasa lapar pada tikus-tikus dengan mengaktifkan neuron AgPR sebelum memaparkan mereka ke ruangan yang berisi bahan kimia yang biasa diproduksi oleh rubah (lingkungan yang merangsang rasa takut tikus).


Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tikus melawan rasa takut mereka untuk mendapatkan makan.


Sebuah penelitian yang lebih jauh mengungkap bahwa motivasi kebutuhan akan sosial dengan cara mengisolasi tikus di suatu wadah, dan rata-rata tikus-tikus tersebut akan memilih ruangan yang berisi makanan penuh dibandingkan dengan ruangan berisi tikus-tikus lainnya. Hal yang sangat menarik ada di sini, aktivitas neuron AgRP meningkat ketika tikus yang lain berada didekat, hal ini akan meningkatkan kompetisi dalam mencari makanan si tikus.



Jadi berdasarkan penelitian di atas, adakah manfaat dari penelitian ini untuk pengobatan kegemukan?


[caption id="attachment_638" align="aligncenter" width="1920"]kegemukan Mampukah penelitian ini mengobati kegemukan?
Sumber Gambar: pexels.com[/caption]

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga keseimbangan tubuh manusia ada sebuah neuron yang mengaturnya. Mungkin saja jika kita mengurangi atau memblok pengeluaran aktivitas neuron AgRP (neuron yang bertanggungjawab mengatur nafsu makan) di dalam tubuh manusia, maka nafsu makan para penderita obesitas atau kegemukan akan terbendung, dan pada akhirnya akan membantu menurunkan berat badan mereka.


Tapi peneliti masih belum dapat memastikannya apakah hasil dari penelitian ini bisa mengobati permasalahan kegemukan pada manusia, dan mereka masih melanjutkan penelitian-penelitian mereka agar nantinya akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.


No comments:

Post a Comment