Sunday, October 9, 2016

Kelebihan Otak Penari dan Pemusik

[caption id="attachment_690" align="aligncenter" width="1920"]Kelebihan Otak Penari dan Pemusik Pemusik
Sumber Gambar: pexels.com[/caption]

Tarian dan Musik adalah suatu seni yang sangat disukai beberapa kalangan. Saat mendengarkan musik kemungkinan tubuh juga akan bergoyang mengiringi irama musik. Jika ditelisik lebih jauh, ternyata otak penari dan pemusik sangatlah berbeda dengan orang yang bukan penari dan pemusik. Otak para penari dan pemusik memiliki beberapa kelebihan. Simak penjelasannya di paragraf selanjutnya.



Penelitian-penelitian


Sebuah riset yang telah dipublikasikan di jurnal NeuroImage menunjukan perubahan otak penari dan pemusik khususnya di bidang sensorik dan motorik.


Pada zaman dahulu, kebudayaan yang dominan di zaman kuno adalah musik. Musik bagaikan sesuatu hal yang sangat lumrah di masyarakat pada zaman itu.


Hasrat dalam menciptakan musik dan bergoyang saat mendengarkan musik terus berlangsung hingga era modern ini. Meskipun anak-anak bisa belajar bermain musik, tapi kebanyakan sekarang anak-anak lebih suka bermain playstation atau Xbox daripada belajar menari dan bermusik. Sebuah penemuan baru-baru ini menunjukan bahwa musik dan menari mampu mengubah otak.


Para peneliti dari International Labolatory for Brain, Music, and Sound Research Kanada telah meneliti pemahaman tentang perubahan otak penari dan pemusik. Penelitian terakhir telah menunjukan bahwa latihan bermusik sejak kecil mampu merubah otak.


Sebuah penijauan ulang telah dipublikasikan sejak tahun 2014 silam, ia menyimpulkan bahwa belajar musik mampu mengubah lalu linas antara dua belah otak (corpus callosum). Namun, otak para penari dan pemusik sangat sedikit sekali memberikan perhatian pada peneliti.


Ada sebuah perbedaan kemampuan yang melibatkan latihan, contohnya seorang penari akan fokus dalam mengintegrasikan visual, auditory, dan koordinasi gerak tubuh. Sedangkan pemusik fokus pada pendengaran dan informasi motorik.



Pencitraan Otak Penari dan Pemusik


Dengan menggunakan tehnik pemindaian otak diffusion tensor imaging akan terlihat secara detail bagian putih otak dari para penari, pemusik, dan bukan penari atau pemusik.




[caption id="attachment_691" align="aligncenter" width="1920"]Penari Penari
Sumber Gambar: pexels.com[/caption]

Perbedaan terletak pada bagian putih otak termasuk arus listrik sensorik dan motorik. Bagian inilah yang memberikan tingkat kecerdasan pada para pemusik dan penari.


Lalu lintas listrik mempengaruhi serabut-serabut yang mempunyai hubungan dengan bagian sensorik dan motorik otak, tepatnya di dalam corpus callosum. Pada otak penari, bagian ini nampak lebih lebar dan luas, sedangkan pada pemusik koneksi antar sel otaknya lebih kuat, tapi tidak terlalu luas.




Baca juga:





Hasil dari pencitraan otak ini menunjukan bahwa latihan menari dan bermusik mampu meningkatkan koneksi antar serabut saraf pada otak penari, dan menguatkan lalu lintas listrik otak di otak pemusik.



Kenapa Bagian Putih Otak Para Penari dan Pemusik Berbeda dengan Orang pada Umumnya?


Hal ini kerena para penari melatih seluruh tubuhnya yang artinya ia melatih bagian otak neural cortex dimana bagian otak ini akan mengalami perubahan dalam serabut supaya lebih terhubung dan bertambah ukurannya. Sedangkan para pemusik cuma melatih bagian tubuh tertentu saja seperti jari jemari dan mulut yang digambarkan dengan bagian cortex yang lebih kecil dibandingkan penari.


Hasil yang tak kalah menariknya bahwa otak para penari dan pemusik sangatlah berbeda dengan orang yang bukan penari atau pemusik.


Tak hanya menunjukan menakjubkannya otak para penari dan pemusik, hasil dari penelitian ini juga memiliki percabangan untuk pendidikan dan rehabilitasi. Dengan memahami bagaimana aktivitas menari dan bermusik mampu mempengaruhi perubahan otak, diharapkan nantinya akan ada pemahaman dan cara yang jitu untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit yang ada hubungan dalam bagian otak ini.


Otak para penari dan pemusik masih dilakukan penelitian akan potensinya untuk menyembuhkan penyakit Parkinson dan autis. Kita berharap dengan penelitian ini akan menjadi seni dalam menyembuhkan penyakit.

No comments:

Post a Comment